
Sukabumi – Lembaran-lembaran kertas tua itu tampak rapuh, pinggirannya menguning dan sebagian sobek dimakan usia. Namun di balik tampilannya yang renta, tersimpan jejak pengetahuan masa lalu yang kini kembali dihidupkan. Naskah kuno yang dikenal sebagai Patambaan Siliwangi menjadi sorotan dalam penelitian lanjutan yang dilakukan tim filolog.
Naskah tersebut merupakan bagian dari koleksi manuskrip di Museum Prabu Siliwangi yang sebelumnya telah diinventarisasi oleh tim peneliti. Kini, salah satu naskah dipilih untuk dikaji lebih dalam, khususnya yang memuat resep-resep pengobatan tradisional berbasis herbal.
Filolog Ilham Nurwansah menjelaskan, naskah Patambaan pada dasarnya merupakan dokumentasi pengalaman empiris masyarakat masa lampau dalam bidang pengobatan.
“Di dalam naskah ini banyak sekali informasi yang berkaitan dengan pengobatan tradisional. Itu dicatat berdasarkan pengalaman orang-orang terdahulu, tumbuhan apa yang berkhasiat, bagaimana cara mengolahnya, dan untuk penyakit apa digunakan,” ujarnya di Museum Prabu Siliwangi, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, meski belum mencantumkan takaran secara rinci seperti standar medis modern, naskah ini tetap menyimpan informasi penting sebagai rujukan awal.
“Ini seperti kumpulan resep jamu. Informasinya ada, tapi untuk praktik tentu perlu dikaji lagi oleh para ahli, termasuk pengujian secara ilmiah,” katanya.
Dari Pengobatan hingga Perhitungan Hari
Tak hanya soal pengobatan, isi naskah ternyata sangat luas. Ditulis dalam bahasa Jawa dialek Cirebon dengan aksara Jawa, naskah setebal 148 halaman itu juga memuat berbagai aspek kehidupan. Mulai dari perhitungan hari baik, hari lahir, hari nahas, hingga perhitungan benda hilang dan kaitannya dengan perbintangan.
“Ini naskah yang sangat kompleks. Ada unsur pengobatan, ada juga palintangan atau perhitungan hari, bahkan sampai ke hal-hal seperti zodiak dalam istilah barat,” ungkap Ilham.
Temuan 28 Jenis Tumbuhan Obat
Dari hasil identifikasi, terdapat sedikitnya 28 jenis tumbuhan yang disebut memiliki khasiat pengobatan. Beberapa di antaranya masih sangat familiar di masyarakat.
“Ada daun sirih untuk sakit kepala, mengkudu, dan tanaman lain yang memang masih digunakan sampai sekarang,” jelasnya.
Namun, ada pula jenis tanaman yang mulai langka dan sulit ditemukan. “Seperti pohon loa atau lame, ini sudah jarang digunakan. Ke depan mungkin perlu dibudidayakan kembali,” tambahnya.
Butuh Waktu Berbulan-bulan untuk Membaca
Proses penelitian naskah ini tidak bisa dilakukan secara instan. Ilham menyebut, untuk membaca keseluruhan isi naskah saja membutuhkan waktu hingga dua bulan.
“Karena membaca naskah kuno itu tidak bisa sehari dua hari. Apalagi nanti harus ditelusuri lagi nama latin tumbuhan, itu riset tambahan,” katanya.
Berusia Lebih dari 100 Tahun
Dari sisi material, naskah ini menggunakan kertas pabrikan, bukan daun lontar. Berdasarkan analisis, naskah diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
“Kalau dilihat dari jenis kertas dan formatnya, ini kemungkinan besar dibuat sekitar 1800-an akhir atau awal 1900-an,” ujar Ilham.
Didorong Jadi Warisan Budaya
Pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH M Fajar Laksana, menilai temuan ini bukan sekadar penelitian, tetapi juga peluang besar untuk pengembangan budaya daerah. Menurutnya, dari total puluhan naskah yang ada, tema pengobatan tradisional menjadi salah satu yang paling potensial untuk diangkat.
“Ini bukan hanya pengetahuan, tapi juga warisan budaya. Bahkan bisa diusulkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa praktik pengobatan herbal yang ia jalankan selama puluhan tahun ternyata memiliki kesesuaian dengan isi naskah, meski sebelumnya tidak pernah membaca manuskrip tersebut.
“Secara praktik saya dapat dari turun-temurun, ternyata setelah dibaca, ramuannya sama. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan ini memang sudah hidup sejak dulu,” katanya.
Potensi Wisata dan Pendidikan
Lebih jauh, hasil penelitian ini diharapkan mampu mendorong Sukabumi menjadi kota berbasis budaya dan pendidikan. Naskah kuno tidak hanya menjadi objek sejarah, tetapi juga daya tarik bagi peneliti dan wisatawan.
“Kalau ini dipublikasikan dan dilegitimasi, orang akan datang. Bukan hanya untuk melihat, tapi juga untuk penelitian dan pendidikan,” ujarnya.
Dengan usia lebih dari satu abad, naskah Patambaan kini tak lagi sekadar arsip lama. Ia menjadi jembatan antara pengetahuan tradisional dan potensi masa depan-dari pengobatan herbal hingga pengembangan budaya lokal yang berkelanjutan.