SUKABUMI – Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath memperkuat peran sebagai pusat pemberdayaan berbasis riset melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang dirangkaikan dengan workshop serta pameran ekonomi kreatif, Senin (27/4/2026).

Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana, menegaskan bahwa kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam mendorong penguatan riset sekaligus pengembangan produk unggulan pesantren secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan, kerja sama yang dibangun mencakup dua fokus utama. Pertama, di bidang permuseuman yang meliputi penelitian terhadap benda arkeologi dan naskah kuno. “Program ini telah berjalan dan tercatat sudah enam kali dilakukan penelitian,” ujarnya.

Fokus kedua, lanjut dia, diarahkan pada pengembangan produk pesantren, khususnya sektor obat herbal, pengelolaan sampah, serta penataan lingkungan berbasis keberlanjutan.

Dalam implementasinya, pihak pesantren menghadirkan para peneliti BRIN untuk memberikan seminar, transfer pengetahuan, hingga praktik langsung kepada para santri. Upaya ini, tuturnya, bertujuan menjadikan pesantren sebagai model miniatur kota yang mandiri.

“Pesantren ini merupakan sebuah ekosistem yang utuh, menyerupai sebuah kota kecil dengan berbagai aktivitas, mulai dari pendidikan, ekonomi hingga kehidupan sosial. Karena itu, kami ingin menjadikannya sebagai model dalam menata kemandirian masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penerapan konsep ekonomi sirkuler sebagai fondasi pengelolaan lingkungan pesantren. Konsep ini mengedepankan efisiensi sumber daya melalui prinsip zero waste atau tanpa limbah.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi kunci dalam mendorong kemandirian, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan energi secara mandiri.

“Kami ingin membangun sistem kehidupan yang tidak bergantung pada pihak luar, di mana kebutuhan dasar dapat dipenuhi secara mandiri melalui kegiatan beternak, bercocok tanam, serta optimalisasi potensi lingkungan,” paparnya.

Di sisi lain, KH Fajar juga menyoroti potensi pengembangan obat herbal berbasis tujuh tanaman yang telah diwariskan secara turun-temurun selama lebih dari tiga dekade. Namun demikian, ia mengakui bahwa produk tersebut masih memerlukan penguatan kajian ilmiah.

“Secara empiris manfaatnya sudah dirasakan, tetapi belum memiliki legitimasi akademik. Melalui kerja sama ini, kami berharap ada penelitian yang komprehensif sehingga produk tersebut dapat memenuhi standar, termasuk sertifikasi dari BPOM,” ungkapnya.

Melalui kemitraan ini, pihaknya berharap inovasi yang lahir dari lingkungan pesantren tidak hanya memberikan manfaat internal, tetapi juga berkontribusi lebih luas bagi masyarakat.

“Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan model pesantren yang mandiri, efisien, serta berbasis riset, sehingga dapat menjadi rujukan dalam pembangunan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan,” pungkasnya.