
KOTA SUKABUMI, jurnalisbicara.com – Museum Prabu Siliwangi tengah menyelesaikan penyusunan katalog ilmiah koleksi keramik bersejarah hasil penelitian yang dilakukan oleh tim ahli yang ditunjuk oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Katalog tersebut ditargetkan rampung pada Juli mendatang dan akan menjadi rujukan penting dalam upaya pelestarian, edukasi, serta pengembangan wisata sejarah di Kota Sukabumi.
Pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH. Fajar Laksana menjelaskan, bahwa Katalog tersebut bukan disusun oleh pihak museum, melainkan oleh tenaga ahli yang memiliki kompetensi dalam bidang penelitian dan kajian benda bersejarah. Hasil penelitian tersebut nantinya akan diserahkan kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan status benda-benda koleksi sebagai artefak maupun benda cagar budaya.
“Keputusan apakah koleksi ini nantinya akan ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya atau tidak merupakan kewenangan pemerintah. Namun dengan adanya hasil penelitian yang telah dilakukan,kami memiliki keyakinan dan kepercayaan diri bahwa koleksi yang ada di Museum Prabu Siliwangi layak untuk dikunjungi,diteliti,dan dijadikan bahan kajian akademis,” ujarnya
Menurutnya, katalog yang sedang disusun akan menjadi publikasi ilmiah yang dilengkapi dengan kata pengantar dari Menteri Kebudayaan, pimpinan BRIN, serta tokoh-tokoh terkait di bidang permuseuman. Kehadiran berbagai pihak tersebut diharapkan semakin memperkuat kredibilitas dan nilai akademis buku katalog tersebut.
“Katalog ini akan menjadi buku ilmiah yang dapat digunakan sebagai sarana edukasi dan pendidikan. Setelah selesai, kami berencana menggelar seminar sekaligus peluncuran resmi katalog keramik tersebut,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pekerjaan berikutnya setelah penyusunan katalog adalah pembuatan storyline atau alur narasi sejarah yang akan melengkapi pameran koleksi keramik di museum. Storyline tersebut akan menghubungkan setiap koleksi keramik dengan peristiwa sejarah yang terjadi pada masanya.
Menurutnya, koleksi keramik yang berasal dari berbagai dinasti, kerajaan, dan negara sejak abad ke-10 hingga era modern mampu menggambarkan perjalanan sejarah Indonesia, termasuk hubungan perdagangan internasional yang pernah terjalin.
“Pengunjung nantinya tidak hanya melihat benda keramik, tetapi juga memahami sejarah yang menyertainya. Melalui keramik, kita bisa membaca bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia pada setiap periode, negara mana yang menjalin hubungan dagang, hingga masuknya pengaruh asing dan kolonialisme ke Nusantara,” jelasnya.
Saat ini, penelitian baru mencakup sekitar 200 koleksi keramik dari total sekitar 1.000 koleksi yang dimiliki museum. Meski demikian, hasil penelitian tersebut dinilai sudah cukup merepresentasikan perkembangan keramik yang pernah masuk ke Indonesia dari berbagai periode sejarah.
Ke depan, Museum Prabu Siliwangi berencana melanjutkan identifikasi dan penelitian terhadap koleksi lainnya secara bertahap bersama BRIN. Keterbatasan ruang pamer menjadi salah satu tantangan yang dihadapi museum dalam menampilkan seluruh koleksi yang dimiliki.
“Banyak koleksi yang belum dapat dipajang karena keterbatasan ruang dan pertimbangan keamanan. Kami harus menjaga agar benda-benda tersebut tidak mengalami kerusakan seperti retak atau pecah,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan museum dengan koleksi keramik yang telah diteliti secara ilmiah dapat menjadi keunggulan baru bagi Kota Sukabumi. Di tengah keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki daerah, potensi wisata sejarah dan budaya dinilai mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Dengan status koleksi yang jelas, resmi, dan didukung penelitian ilmiah, kami berharap Museum Prabu Siliwangi dapat menjadi destinasi wisata edukasi unggulan yang mampu meningkatkan kunjungan wisata ke Kota Sukabumi,” pungkasnya. (Ald)