KORAN GALA – Bedog Kala Petok ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Karya budaya asal Kota Sukabumi ini masuk daftar WBTbI pada 2026.

Bedog Kala Petok merupakan senjata yang digunakan dalam atraksi jurus pencak silat dari Aliran Sang Maung Bodas.

Senjata ini berbeda dengan golok pada umumnya. Ukurannya hanya sepanjang 24,5 sentimeter dan terdapat ciri khas bentuk ceruk lengkungan pada bilah golok dekat gagang.

Pewaris sekaligus Maestro Bedog Kala Petok KH Fajar Laksana mengatakan, senjata ini didapatkan dari warisan keluarganya secara turun temurun sejak era Kesultanan Banten. Kakeknya Raden Sumawinata mewariskan senjata tersebut pada 1930. “Kalau dari kakek saya dibawanya ke Sukabumi itu tahun 1930.

Terus diajarkan jurus pencak silatnya turun temurun kepada keluarga,” ujar Fajar, Senin 27 Juli 2026.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2024 oleh tim Pusat Arkeologi Sejarah dan Prasejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada bilah Bedog Kala Petok terdapat ukiran aksara Arab Pegon yang bertuliskan ‘Kala Petok’ dan diperkirakan secara paleografi sudah berusia sejak abad 19 atau tahun 1800 an.

Pusaka Bedog Kala Petok tersebut tersimpan di Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi dengan spesifikasi ukuran panjang 24,5 cm, lebar 3,7 cm, dan ketebalan 1 cm. Serta memiliki unsur kandungan besi (Fe=97,77 persen).

Sebelum diwariskan ke kakeknya, silsilah pewarisan Bedog Kala Petok berasal dari Raden Ateng Kastar, lalu Raden Ahmad, Raden Ishak, Raden Tajul Arifin, Raden Koyong hingga berujung kepada Pangeran Sogiri yang berjuang bersama Kesultanan Banten. Menurut Fajar, pada era Kesultanan Banten,

Bedog Kala Petok dahulu digunakan oleh para pejuang untuk bertarung melawan penjajah. Ciri khas senjata ini digunakan untuk pertarungan jarak dekat.

“Pada tahun 1800 an Bedog Kala Petok itu tidak dipakai untuk perang jarak jauh atau perang melawan tarung. Dia untuk lawan (jarak) pendek. Jadi, ketika senjata sudah habis, ketika amunisi perang ini sudah beres, tinggal satu lagi senjata pamungkas, yaitu pertarungan jarak dekat. Jadi, makanya tidak ada Bedog Kala Petok itu dimainkan ketika perang terbuka,” sebutnya.

Makna Filosofis, Mengandung Nilai Spiritual Secara harfiah, Bedog Kala Petok memiliki makna tersendiri.

Bedog diartikan sebagai senjata, Kala diartikan menjadi waktu atau ilmu dan Petok berarti dekat. Sehingga Bedog Kala Petok bermakna sebagai senjata untuk mendekatkan diri kepada Allah.

“Makanya disebut Bedog Kala Petok. Bedog itu senjata, Kala itulah ilmu untuk mengatur waktu, Petok itu dekat. Jadi, senjata untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga senjata untuk melawan jarak dekat, dan senjata terakhir ketika kita sudah habis semuanya,” sebutnya.

Seiring dengan berkembangnya pencak silat Aliran Sang Maung Bodas, replika Bedog Kala Petok saat ini sudah tersebar ke berbagai daerah di Indonesia bahkan hingga mancanegara seperti Singapura, Malaysia, dan Turki.

Namun khusus untuk pembuatan pusaka Bedog Kala Petok, diperlukan metode tersendiri. Sebelum ditempa, besi yang akan dijadikan bilah dicelupkan ke dalam air terlebih dahulu sebagai simbol pensucian. Para penempa juga harus berpuasa sunnah terlebih dahulu.

“Untuk membuat bedog pusaka itu, kita harus berpuasa dulu. Satu, puasa Senin-Kamis mingguan. Baru kemudian bulanannya puasa di tengah bulan tanggal 13, 14, 15. Kemudian, itu bulanan. Untuk tahunannya, di bulan Mulud,” ujar Fajar.

Berpuasa sebagai makna pensucian diri. Setelah itu besi yang sudah dicelupkan, akan dipanggang dan ditempa.

Hal itu dilakukan berulang kali hingga besi terbentuk sempurna menjadi sebilah golok. Pembakaran dan penempaan bermakna bahwa manusia harus melewati fase perjuangan yang keras supaya menjadi pribadi yang kuat dan bersih hatinya.

“Filosofinya luar biasa. Yang membuatnya itu harus bersih suci dengan berpuasa. Penyucian itu simbol bahwa manusia ini tidak bisa punya arti kalau hati kita tidak bersih. Apa pun perilaku kita harus berdasarkan ikhlas. Maka bedog menjadi sesuatu yang bermanfaat kalau dimulai dengan pembersihan diri,” paparnya.

“Maka dia dibakar supaya dia bisa menjadi lembut. Karena kekerasan hati tidak bisa menyebabkan ilmu turun. Maka dibakar itu supaya dihilangkan kekerasannya, sehingga kemudian besi yang keras itu menjadi tidak keras. Setelah tidak keras itu karena dibakar, lalu ditempa, dibentuk, ditempa dibentuk sampai dia tajam sambil dibacakan doa. Setelah kemudian itu, maka dia itu bisa jadi runcing, jadi tajam, jadi orang hebat,” jelasnya.

Memperkuat Identitas Kebudayaan Daerah dan Diplomasi di UNESCO

Sementara itu, Direktur Warisan Budaya Ditjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Agus Widiatmoko mengatakan, dari senjata tradisional Bedog Kala Petok terdapat pengetahuan metalurgi.

Mulai dari cara penyucian, pembakaran, penempaan dan penyepuhan hingga menjadi senjata Bedog Kala Petok.

“Nah, ini teknologi dan pengetahuan tradisional ini juga akan menjadi apa, semacam kalau kita lihat pengetahuan-pengetahuan di Nusantara ini harus kita kumpulkan,” kata Agus.

Penetapan WBTbI ini juga menjadi bukti keanekaragaman tradisi dan budaya di Indonesia yang dapat menjadi media diplomasi di kancah internasional.

Terlebih, Indonesia saat ini sudah menjadi anggota Komite Pelindungan Warisan Budaya Takbenda (Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage) UNESCO.

Landasan yang memperkuat Bedog Kala Petok ditetapkan menjadi WBTbI menurutnya karena tradisi ini memiliki substansi yang kuat di dalam narasinya. Mulai dari penceritaan mengenai makna penyucian, pembakaran hingga penempaan menjadi nilai tambah untuk penetapan WBTbI terhadap ekspresi budaya ini. Kajian ilmiah terhadap ekspresi budaya ini juga menjadi nilai kuat bagi penilaian.

“Secara substansi kuat di dalam narasi, ya. Narasi ini artinya benda itu harus bercerita, dan cerita ini harus cerita yang memang bisa dikaji secara ilmiah, baik dari sudut pandang budaya maupun sudut pandang ilmu lain atau multidisiplin,” jelasnya. Dia menegaskan, status WBTbI bukan sebuah tujuan akhir.

Pelestarian dan pengembangan budaya Bedog Kala Petok harus terus dilakukan. Kesenian ini dapat melahirkan sumber ekonomi baru di masyarakat dengan membuat replika dan atraksi pencak silat jurus Bedog Kala Petok. Dia pun menyarankan untuk dibuat konsep living museum yang terintegrasi dengan Museum Prabu Siliwangi dengan penampilan pencak silat jurus Bedog Kala Petok.

“Bagaimana ini juga harus dikembangkan dan dimanfaatkan menjadi living museum. OJadi orang bisa melihat atraksi, orang datang “oh seperti apa sih bangsa kita, masyarakat Sukabumi ini ketika membuat Bedog Kala Petok? Kemudian atraksi pencak silat ini juga hilirnya pariwisata, bisa juga menyejahterakan pekerja-pekerjanya yang buat, kemudian biro perjalanan, dan seterusnya,” katanya.

“Saya yakin, silat-silat sekarang yang dari sini aja sudah menyebar ke Singapura, Turki, kemudian di Asia Tenggara berkembang. Nah, saya yakin Bedog Kala Petok ini juga nanti akan mengikutinya,” pungkasnya.***