KORAN GALA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali melakukan penelitian di Gunung Tangkil, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi.

Penelitian melibatkan Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi yang dilaksanakan dari 16 sampai 20 September 2025.

Dalam penelitian kali ini, tim arkeolog BRIN menggunakan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) untuk mengidentifikasi adanya temuan arkeologi dengan memanfaatkan sinar laser yang mampu menembus vegetasi. 

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN M. Irfan Machmud menyampaikan, para peneliti menemukan struktur bebatuan di area tinggi yang mengindikasikan adanya jejak megalitikum.

Temuan struktur berupa susunan batu di Gunung Tangkil menunjukkan  pemanfaatan areanya tidak bersifat acak melainkan mengikuti pola lingkungan yang mendukung aktifitas manusia di masa lalu.

Di antaranya ketersediaan bahan batuan, ketersediaan air, permukaan tanah datar dan perlindungan alami dari lereng.

“Sudah banyak dari analisa juga kita menemukan adanya anomali yang menunjukkan beberapa struktur, kemudian jejak yang diduga jalan kuno. Kita menemukan juga undakan teras, tapi belum sempurna. Lalu juga kita menemukan calon arca, terus bekas jalan batunya,” kata Irfan, Sabtu 29 November 2025.

Berdasarkan hasil penelitian sementara BRIN, temuan struktur batu terkonsentasi pada empat teras yaitu teras pertama, temuan fragmen batu-batu, menhir, arca, susunan jalan batu.

Teras kedua, temuan struktur susunan batu dakon. Teras ketiga, temuan gundukan batu bernisan atau batu tegak, gundukan tanah aktivitas ritual. Teras keempat, temuan struktur batu bernisan, struktur susunan batu memanjang. 

Irfan menilai, Gunung Tangkil memiliki prospek yang bagus untuk diteliti lebih lanjut menjadi situs cagar budaya. 

“Ini prospek saya kira sebagai simbol situs untuk diteliti lebih mendalam. Kita yang pertama garap lah, justru datanya lebih bagus,” ujar Irfan. 

“Jadi dari sisi luasan itu juga area konservasi karena di situ hutan artinya datanya itu sangat belum terganggu, sangat bagus,” lanjutnya. 

Namun dia mengakui masih ada tantangan dalam penelitian. Lahan Gunung Tangkil termasuk ke dalam area cagar alam Sukawayana. Sehingga proses ekskavasi lebih lanjut harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi alam di sekitarnya.

“Tantangannya kita belum bisa ekskavasi sementara untuk membuka area-area yang punya nilai penting tinggi, itu kan perlu ekskavasi. Saat ini baru pada analisa bidak atau udara,” ujarnya.

“Harus survei terbatas karena mau motong di situ kan hutan lindung, memotong dahan saja tidak boleh kan. Nah kalau kita mau masuk ada struktur jalan. Jadi memang masih diskusi dulu dengan pihak kehutanan,” lanjut Irfan. 

Menurut Irfan, Gunung Tangkil yang berdekatan dengan kawasan Geopark Ciletuh, memiliki keselarasan antara alam dan budaya masa lalu. Rekomendasi dari BRIN, Gunung Tangkil bisa dijadikan situs cagar budaya, namun dibuka dalam batas-batas tertentu karena masih termasuk kawasan konservasi. 

“Ya bagus sih dari banyak tempat, kayak geopark itu kan menyatukan alam, budaya dan manusia, jadi kalau itu ditemukan memang sebaiknya lebih bagus untuk kepentingan riset saja. Kalau sudah ditemukan luas mungkin dengan Balai Pelestarian Kebudayaan bisa direkomendasikan dibuka dalam batas-batas tertentu,” katanya.

Sementara itu pendiri Museum Prabu Siliwangi Kota Sukabumi, KH Fajar Laksana menyampaikan, sebelumnya beberapa temuan bebatuan di Gunung Tangkil telah disimpan di Museum Prabu Siliwangi.

Atas dasar itu, dilakukan lah penelitian di lokasi penemuan bebatuan kuno tersebut di Gunung Tangkil yang sudah dilakukan secara bertahap sejak Mei 2025.

Dia pun mendorong supaya Gunung Tangkil ditetapkan menjadi situs cagar budaya.

“Kepada pemerintah, kita mengusulkan Gunung Tangkil jadi situs cagar budaya,” jelasnya.***