BRIN bersama Museum Prabu Siliwangi dan peneliti lokal menemukan indikasi kuat bahwa kawasan berhutan tersebut menyimpan struktur megalitik.

Rangkaian penelitian terbaru di Gunung Tangkil, Sukabumi, Jawa Barat, mengungkap temuan arkeologis yang dinilai dapat mengubah pemahaman tentang jaringan budaya megalitik di Jawa Barat. 

Investigasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Museum Prabu Siliwangi dan peneliti lokal menemukan indikasi kuat bahwa kawasan berhutan tersebut menyimpan struktur megalitik berskala besar, dikutip dari New Arkeonews, Kamis (4/12).

Penemuan ini bermula dari identifikasi fragmen pahatan batu oleh peneliti Zubair Mas’ud di area terpencil lereng Gunung Tangkil. Komposisi litiknya dinilai mirip dengan koleksi megalitik di Museum Prabu Siliwangi. 

“Komposisi dan karakteristiknya menunjukkan hubungan yang kuat. Ini penemuan yang sangat menjanjikan,” ujar aktivis cagar budaya KH Fajar Laksana dalam seminar arkeologi pada Juli lalu.

Dukungan temuan dari lokasi-lokasi terdekat seperti menhir di Desa Tugu dan struktur batu di Gunung Karang ini kian menguatkan hipotesis bahwa kawasan ini dulunya merupakan bagian dari jaringan megalitik yang luas.

LiDAR Ungkap Pola Struktur Mencurigakan

Survei LiDAR yang dilakukan BRIN pada 16–20 September 2025 menghasilkan terobosan penting. Sehingga Teknologi ini berhasil menembus hutan lebat dan memetakan susunan batu serta anomali permukaan yang diduga hasil rekayasa manusia.

“Kami melihat struktur batu yang terfokus di zona-zona tinggi, menandakan adanya pola pemanfaatan ruang yang sengaja dirancang manusia purba,” kata M. Irfan Machmud, Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN.

Hasil pemetaan LiDAR mengidentifikasi empat gugus teras utama, mencakup pecahan batu, menhir, jalur setapak, gundukan ritual, hingga formasi batu memanjang yang diduga sebagai penanda vertikal. 

Beberapa anomali lainnya diperkirakan merupakan sisa jalur kuno dan platform bertingkat.

Fragmen Keramik Tunjukkan Jejak Perdagangan

Selain struktur batu, ratusan fragmen keramik abad ke-10 hingga ke-20 ditemukan dalam survei sebelumnya. 

Tim ahli menyebut keramik tersebut mencerminkan interaksi panjang antara Nusantara dan pedagang maritim Tiongkok. 

“Fragmen ini memberi bukti adanya hubungan ekonomi jangka panjang,” kata salah satu peneliti.

Tantangan Penelitian di Kawasan Cagar Alam

Kendati menjanjikan, penelitian lebih lanjut terhambat peraturan konservasi. Gunung Tangkil berada di dalam Cagar Alam Sukawayana, sehingga penggalian dan bahkan pemangkasan vegetasi memerlukan izin khusus.

“Kami belum bisa menyentuh area kunci,” jelas Irfan. “Untuk saat ini penelitian terbatas pada survei udara dan analisis permukaan.” tambahnya.

Meski begitu, ia menilai kondisi konservasi justru menjaga integritas data arkeologis sehingga potensi ilmiahnya sangat besar.

Didorong Jadi Situs Warisan Budaya

Ketertarikan akademis terhadap Gunung Tangkil meningkat, termasuk dari Prof. Ali Akbar (Universitas Indonesia), yang menduga gunung tersebut terhubung dengan pusat-pusat megalitik lain di Jawa Barat. 

Keberadaan ritual masyarakat setempat juga menjadi indikator kesinambungan budaya.

Melihat meningkatnya bukti, BRIN bersama tokoh budaya resmi mendorong pemerintah menetapkan Gunung Tangkil sebagai situs warisan budaya. 

“Awalnya hanya verifikasi rutin, kini menjadi indikasi kuat adanya situs arkeologi besar,” kata KH Fajar.

BRIN kini mempersiapkan fase penelitian berikutnya, termasuk pemetaan drone dan ekspansi pemindaian LiDAR. Jika temuan divalidasi dan kawasan dilindungi, Gunung Tangkil berpotensi menjadi salah satu situs megalitik paling penting di Indonesia dan menyimpan sejarah teknik, perdagangan, dan budaya kuno yang selama ini tersembunyi di balik hutan Sukabumi.