RADAR JABAR – Upaya menghidupkan kembali khazanah pengetahuan lokal terus dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui kajian naskah kuno tahap keenam yang digelar, di Museum Prabu Siliwangi.

Seminar bertajuk “Patambaan Siliwangi” itu menjadi pintu masuk untuk menelusuri sistem pengobatan tradisional Sunda yang lama terpinggirkan.

Penelitian yang masih berada pada tahap awal ini difokuskan pada identifikasi struktur dasar manuskrip, mulai dari bagian pembuka, isi, hingga penutup. Namun dari proses inventarisasi tersebut, tim peneliti telah menemukan sedikitnya 29 naskah kuno berusia lebih dari setengah abad yang tergolong artefak filologis penting.

Pimpinan Ponpes Al-Fath, KH. M. Fajar Laksana, menjelaskan, meski penelitian baru menyentuh aspek dasar seperti keaslian dan daftar isi, potensi pengetahuan yang terkandung di dalamnya sangat besar.

“Dari tahap awal saja sudah terlihat puluhan tema besar. Ini menunjukkan kekayaan intelektual yang luar biasa dari masyarakat masa lalu,” ujarnya kepada radar sukabumi, pada Rabu (15/4/2026).

Salah satu tema yang paling menonjol adalah “patambaan” atau praktik pengobatan tradisional. Dari hasil terjemahan awal terhadap salah satu naskah, terungkap lebih dari 25 jenis tanaman khas Sunda yang memiliki khasiat medis.

Temuan ini mengindikasikan bahwa masyarakat Sunda telah memiliki sistem pengobatan herbal yang terstruktur jauh sebelum hadirnya pengaruh medis modern.

Fajar menekankan, pengetahuan tersebut bukan sekadar tradisi lisan, melainkan sistem yang terdokumentasi dan terbukti secara empiris. Bahkan, ia menemukan keselarasan antara isi naskah dengan praktik pengobatan yang diwariskan dalam keluarganya.

“Apa yang selama ini saya pelajari secara turun-temurun ternyata identik dengan isi manuskrip. Ini menunjukkan adanya kesinambungan antara praktik dan sumber tertulis,” ungkapnya.

Berdasarkan kajian sementara, naskah-naskah tersebut diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Nilai historis yang tinggi membuka peluang besar untuk pengajuan status cagar budaya, baik sebagai benda maupun warisan tak benda.

“Konsep ‘Patambaan Siliwangi’ sangat potensial diusulkan sebagai warisan budaya tak benda, sementara manuskripnya layak menjadi cagar budaya,” tambahnya.

Selain nilai sejarah, penguatan budaya berbasis riset ilmiah juga dinilai mampu mendorong Sukabumi sebagai destinasi wisata berbasis pengetahuan. Ketika budaya memiliki legitimasi akademik, daya tariknya akan meluas, tidak hanya bagi wisatawan tetapi juga kalangan peneliti dan akademisi.

Sementara itu, Ilham Nurwansah dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat mengungkapkan, penelitian ini merupakan kelanjutan dari kajian sebelumnya terhadap koleksi naskah di museum tersebut.

Ia menjelaskan, salah satu naskah yang diteliti memuat dokumentasi lengkap praktik pengobatan herbal berbasis pengalaman empiris masyarakat masa lampau, mulai dari jenis tanaman, metode pengolahan, hingga manfaat kesehatannya.

Menariknya, naskah setebal sekitar 148 halaman itu ditulis dalam bahasa Jawa dialek Cirebon dengan aksara Jawa. Selain pengobatan, isinya juga mencakup penanggalan, perhitungan hari baik, hingga ilmu perbintangan menunjukkan luasnya spektrum pengetahuan yang dimiliki masyarakat saat itu.

“Meski pembahasannya beragam, fokus utama kajian saat ini tetap pada patambaan, yang secara harfiah berarti obat atau praktik pengobatan tradisional,” jelas Ilham.

Ia menegaskan, keberadaan naskah tersebut menjadi bukti kuat bahwa sistem pengobatan tradisional Nusantara telah berkembang secara sistematis sejak lama.

“Karena itu, penelitian lanjutan sangat diperlukan, termasuk melibatkan para praktisi agar manfaatnya tidak berhenti di ranah akademik, tetapi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” tandasnya. (ris).